Wednesday, October 15, 2014

FALSAFAH ALAM MINANG KABAU


FALSAFAH ALAM MINANG KABAU

Ungkapan alam takambang jadi guru sangat akrab di telinga orang minangkabau . ungkapan itu tidak asing lagi bagi nya. Mulai dari anak-anak sampai dengan orang dewasa, sangat akrab dengan pernyataan itu, hal itu memang pantas , karena filsafah ini memang pantas , karena filsafat hidup orang minangkabau adalah filsafat alam . artinya orang minagkabau melandaskan pedoman hidupnya kepada alam .
Alam bagi orang minangkabau bukan sekedar tempat lahir dan tempat hidup. Alam bagi mereka adalah segala-galanya . alam bagi mereka mempunyai makna filosofis. Mereka mengungkapkan alam takambang jadi guru. Hal itu pula lah yang membuat mereka mengukirkan pandangan hidup dalam pepatah, petitih, dan, mamangan dari bentuk , sifat dan kehidupan alam.
Ado matohari, ado bulan, ado bumi, ado bintang
Ado siang, ado malam, ado pagi ,ado patang
Ado aia, ado api, ado angina, ado tanah,
Semua unsur alam ini saling berhubungan , tetapi saling mengikat, saling berbenturan, tetapi tidak saling melenyapkan , saling mengelompok, tetapi tidak saling melebur. Unsur itu masing-masing hidup dengan keberadaannya (eksistensinya dalam suatu keharmonisan , tetapi dinamis , ia hidup dalam dialektika alam yang dinamakan bakarano,bakajadian (basabab,baakibat)
Orang minang kabau mengungkapkan pandangan hidupnya dengan beribarat . mereka selalu beranalogi. Alam yang luas dengan segala unsurnya , dianalogikan kepada manusia. Alam yang luas dengan segal unsurnya ada pada diri kita
Keberadaan unsur alam ditengah-tengah unsur yang lain sama dengan keberadaan individu mendapatkan tempat sesuai dengan kodratnya
Dari bentuk sifat dan kehidupan alam itu , orang minangkabau menurunkan ajarannya, menciptakan filsafatnya, ajaran itu berisi ketentuan ,peraturan dan rambu-rambu kehidupan secara individu dan kehidupan bermasyarakat. Ajaran itu tertuang di dalam dua bentuk yakni petatah dan petitih. Petatah dan petitih itu dibuat berdasarkan bentuk, sifat, dan kehidupan alam. Oleh karena itu alam bukan sekedar tempat lahir dan tempat hidup bagi orang minang kabau tetapi juga merupakan filosofi hidupnya
Alam bagi orang minangkabau mengandung makna yang tiada tara . alam bagi meraka adalah segala-galanya, mereka menganggap dirinya bagian dari alam kepada alam mereka menyandarkan kehidupan . dengan alam pula mereka hidup , karena itu mereka sangat akrab dengan alam
Menurut orang minagkabau hubungan manusia dengan lama sangat akrab, mereka beranggapan, manusia adalah bagian dari alam, bahkan ada di antara mereka yang berpendapat, manusia itu adalah alam itu sendiri. Hal ini dibuktikannya bahwa unsur –unsur yang ada pada alam luas (alam makro) ini ada juga pada diri manusia juga ada air, ada api, ada angin,dan ada tanah.
Mereka mengungkapkan keindahan itu dengan penuh perasaan .
Elok ranahnyo minangkabau, rupo karambia tinggi-tinggi, cando pinangnyo lingguyuran , rupo rumpuiknyo ganti-gantian . gunuang marapi jo singgalang , tandikek jo gunuang sago, pasaman jo gunuang talang. Nan bagunuang babukik-bukik, nan bahutan barimbo labek, nan babukik baguo batu, nan bangarai balurah dalam. Nan badanau aia mangalia, nan batasik bapayau-payau.
Alam yang indah itu bukan sekedar dipujanya tetapi juga dimanfaatkannya. Alam, selain mereka manfaatkan untuk menjadi guru (alam takambang jadi guru), juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya , kebutuhan ekonominya
Perhatikan ungkapan berikut
Sasukek duo baleh taia, sacupak mangko digantang, nan lunak ditanam baniah , nan kareh dibuek ladang , nan bancah palapeh itiak , ganangan katabek ikan , bukik batu katambang ameh, tambang timbago dan perak, tambang batu baro dengan minyak, batanam nan bapucuak , mamaliharo nan banyao
Hubungan alam dengan manusia adalah hubungan yang kompleks. Hubungan itu merupakan hubungan yang mengikat dari banyak sisi. Semua sisi kehidupan manusia
Terkait dengan alam . di alam mereka hidup , pada alam mereka belajar , dari alam mereka memperoleh kehidupan.


Sunday, October 12, 2014

jam gadang



Jam Gadang



Jam Gadang adalah nama untuk menara jam yang terletak di pusat kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Menara jam ini memiliki jam dengan ukuran besar di empat sisinya sehingga dinamakan Jam Gadang, sebutan bahasa Minangkabau yang berarti "jam besar".
Selain sebagai pusat penanda kota Bukittinggi, Jam Gadang juga telah dijadikan sebagai objek wisata dengan diperluasnya taman di sekitar menara jam ini. Taman tersebut menjadi ruang interaksi masyarakat baik di hari kerja maupun di hari libur. Acara-acara yang sifatnya umum biasanya diselenggarakan di sekitar taman dekat menara jam ini.
 jam Gadang memiliki denah dasar seluas 13 x 4 meter. Bagian dalam menara jam setinggi 26 meter ini terdiri dari beberapa tingkat, dengan tingkat teratas merupakan tempat penyimpanan bandul. Bandul tersebut sempat patah hingga harus diganti akibat gempa pada tahun 2007.
Berkas:2011 jamgadang 2 cropped.jpg
Terdapat 4 jam dengan diameter masing-masing 80 cm pada Jam Gadang. Jam tersebut didatangkan langsung dari Rotterdam, Belanda melalui pelabuhan Teluk Bayur dan digerakkan secara mekanik oleh mesin yang hanya dibuat 2 unit di dunia, yaitu Jam Gadang itu sendiri dan Big Ben di London, Inggris. Mesin jam dan permukaan jam terletak pada satu tingkat di bawah tingkat paling atas. Pada bagian lonceng tertera pabrik pembuat jam yaitu Vortmann Relinghausen. Vortman adalah nama belakang pembuat jam, Benhard Vortmann, sedangkan Recklinghausen adalah nama kota di Jerman yang merupakan tempat diproduksinya mesin jam pada tahun 1892.
Jam Gadang dibangun tanpa menggunakan besi peyangga dan adukan semen. Campurannya hanya kapur, putih telur, dan pasir putih.
 am Gadang selesai dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris atau controleur Fort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi) pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Arsitektur menara jam ini dirancang oleh Yazid Rajo Mangkuto, sedangkan peletakan batu pertama dilakukan oleh putra pertama Rook Maker yang pada saat itu masih berusia 6 tahun.
Pembangunan Jam Gadang menghabiskan biaya sekitar 3.000 Gulden, biaya yang tergolong fantastis untuk ukuran waktu itu. Sehingga sejak dibangun dan sejak diresmikannya, menara jam ini telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Hal itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang kemudian dijadikan sebagai penanda atau markah tanah dan juga titik nol Kota Bukittinggi.
Sejak didirikan, menara jam ini telah mengalami tiga kali perubahan pada bentuk atapnya. Awal didirikan pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, atap pada Jam Gadang berbentuk bulat dengan patung ayam jantan menghadap ke arah timur di atasnya. Kemudian pada masa pendudukan Jepang diubah menjadi bentuk pagoda. Terakhir setelah Indonesia merdeka, atap pada Jam Gadang diubah menjadi bentuk gonjong atau atap pada rumah adat Minangkabau, Rumah Gadang.
Renovasi terakhir yang dilakukan pada Jam Gadang adalah pada tahun 2010 oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dengan dukungan pemerintah kota Bukittinggi dan Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. Renovasi tersebut diresmikan tepat pada ulang tahun kota Bukittinggi yang ke-262 pada tanggal 22 Desember 2010.